Friday, August 29, 2008

Asia-Pacific Entepreneurship Award 2008

Tidak terasa, ternyata 8 bulan saya tidak menambah isi blog saya ini.

Berbagi cerita sedikit. Hari Senin tanggal 25 Agustus 2008, di Ballroom Hotel Ritz Carlton Jakarta. EnterpriseAsia menggelar malam penghargaan bagi para entepreneur Indonesia. Salah satu board of advisornya adalah Hermawan Kartajaya. Sepotong kliping di Kompas seperti dibawah ini.


Adapun nama-nama penting para penerima award 2008 diantaranya adalah:
  1. Entepreneur of the Year: Sandiaga Uno
  2. Woman Entepreneur of the Year: Dr. Martha Tilaar
  3. Lifetime Achievement Award: Dr. Ir. Ciputra
  4. Outstanding Entepreneur: 16 orang
  5. Most Promising Entepreneur: ada 7 orang. Salah satunya Andrie Trisaksono

Wednesday, December 12, 2007

Aktifkan Imajinasi: Kekuatan Kontekstual (The Power of Context)

-Adakah ide yang benar-benar orisinil?

- Bagaimana menjadi orang kreatif yang dicari orang?

"While one often thinks that the creative art, that which is valued as original and new, or unique to a particular culture, time and place, it is as a rule not the case at all. All great and small artists, and cultures to that matter, have been inspired in some generative degree by those that came before or from afar, nourished by inspirational images, ideas and techniques, a continual process of adaptation, internationalization and externalization".

(Jonathan Zilberg, Ph.d. Disampaikan pada ceramah "International Seminar of Visual Arts and Design for the Society", 60 tahun Seni Rupa ITB, 8 Dessember 2007)

Zilberg yang berambut gondrong ini punya dua dunia. Ia adalah seorang peneliti biologi dan seorang antropolog. Kombinasi yang aneh bukan? Pada makalah diatas, Zilberg menjelaskan bahwa terjadinya saling silang gaya (style) antara pelukis-pelukis di manca negara dan ini telah berlangsung dari dulu. Misalnya gaya dari pelukis Itali yang populer, akan dengan mudah mengimbasi gaya pelukis-pelukis dinegara lain. Ia membuktikan adanya kesamaan pola (pattern) antara lukisan seniman dari Batuan, Bali (klik & klik) dengan seniman di Zimbabwe, Afrika. Kok bisa? darimana dia melihatnya ( mengkontektualisasikannya) ? Ia juga mencontohkan adanya pelukis Indonesia yang Van Gogh wannabe. Apakah itu salah? ia bilang tidak. Saya tidak akan membahas lukisan, saya terinspirasi dari keberanian kerangka berfikir Zilberg. Yes! satu jawaban didalam list pertanyaan yang panjang didalam hati saya akhirnya terjawab. Secara singkat saya berkesimpulan, bahwa adaptasi, internasionalisasi dan eksternalisasi juga melanda seni sejak dulu. Wake up, it is called Globalization, rite? Lantas, kalau sudah terjadi sejak dulu, mengapa pada ribut tentang globalisasi? Oke, memang tidak sesederhana itu menggeneralisasi globalisasi, namun bila disebut pattern, mungkinkah ini suatu proses alamiah?




Kadang pengembangan kemapuan kontekstual ini luput dari perhatian orang-orang dalam usaha pengembangan kapasitas orang kreatif. Kita mengembar gemborkan Talenta. Talenta seperti apa? nah inilah salah satu unsur yang harus diinjeksikan kepada bibit-bibit talenta muda. Tulisan pendek ini memang tidak akan menuntaskan permasalahan, anggap saja pemanasan.


The Power of Context, saya ambil dari buku Malcolm Gladwell, The Tipping Point ( 2000) menceritakan tentang perilaku sosial yang mewabah (epidemiology of social behavior). Wabah (epidemic) yang dimaksud adalah suatu gejala sosial yang meluas yang dipicu oleh suatu faktor kecil namun berdampak besar (tipping point). Faktor kecil ini tentu sulit dicari, namun dialah asal usul suatu trend yang menular. Seperti virus, suatu ide atau produk harus mampu menular. Gladwell mengatkaan ada tiga faktor, The Stickiness Factor, Faktor Kekuatan Kontekstual (The Power of Context) dan The Role of a Few.

Saintis memiliki proses kreatif yang sama dengan seniman, hanya outputnya saja yang berbeda. Antropolog juga demikian. Antropolog adalah seorang pengamat yang rajin belajar dilapangan, ia mencatat dan mempelajari pola-pola dan sistim sosial dan kemudian menarik kesimpulan. Ia adalah orang yang dapat membaca suatu pola-pola acak dan mensintesakan menjadi suatu yang berkesinambungan. Pernah lihat Pembaca Kartu Tarot? Dengan kartu-kartu yang diacak, ia dapat membaca karakter seseorang. Desainer dan orang-orang kreatif lain juga memiliki instink ini. Inilah kemampuan terpendam membangkitkan imajinasi, kemampuan kontekstual. Tidak semua orang mau susah-susah berfikir seperti itu. Kadang manusia mengaktifkannya secara tidak sadar. Di era ekonomi kreatif, ini harus dibangkitkan secara sadar dan dijadikan senjata dalam melahirkan ide-ide baru. JADI, jangan takut tidak bisa melahirkan ide orisinil. Tidak ada ide yang berdiri sendiri. Sebuah ide terkait dengan ide yang lain dan terkait pada lingkungan dan juga terhadap sudut pandang orang. Manusia memiliki otak kanan yang mampu menciptakan keterkaitan kontekstual atara satu dan lain hal menjadi sesuatu yang saling berkesinambungan dan menjadi orang yang peka terhadap fenomena sekitar. Pertanyaannya adalah mampukan kita menyusun puzzle tersebut?




















Daniel L. Pink, penulis buku The Whole New Mind (2005) mengungkapkan bahwa di era kreatifitas ini, kita perlu melengkapi kemampuan high-tech dengan kemampuan konseptual tinggi (high-concept) dan sentuhan tinggi (high-touch). Pada era ini, bila ingin maju kita harus melengkapi kemampuan teknologi kita (high-tech) dengan hasrat untuk mencapai tingkat "high concept" dan "high touch". High concept adalah kemampuan menciptakan keindahan artistik dan emosional, mengenali pola-pola dan peluang, menciptakan narasi yang indah dan menghasilkan temuan-temuan yang belum disadari orang lain. High touch adalah kemampuan berempati, memahami esensi interaksi manusia, menemukan makna (klik). (gambar diatas adalah salah satu slide saya pada saat seminar di SBM-ITB)

Howard Gardner, penulis buku tentang kemampuan kognisi, yang populer dengan teori Kecerdasan Ganda (Multiple Intellegence) mengeluarkan lagi buku terbaru yaitu Five Minds of The Future. Dari lima pola fikir yang harus disiapkan, ada dua yang terkait dalam pembahasan kali ini yaitu:


  1. Pola Fikir Sintensa (The Synthesizing Mind) kemampuan mengintegrasikan ide dari berbagai disiplin menjadi kesatuan yang koheren dan mengkomunikasikan integrasi itu ke orang lain.
  2. Pola Fikir Kreasi (The Creating Mind) kemampuan untuk memecahkan dan memperjelas permasalahan baru, pertanyaan-pertanyaan dan fenomena-fenomena.

Thomas L. Friedman, penulis buku The World is Flat dalam pembahasan The New Middlers (maksudnya adalah orang-orang generasi baru yang mampu membuat dunia menjadi sangat dekat/flat) (klik) menyebut enam kemampuan wajib yang harus disiapkan oleh orang-orang yang ingin berlaga diarena pekerjaan (apapun pekerjaan itu). Yang saya bold adalah kemampuan-kemampuan mengkontekstualisasikan segala sesuatu:

  1. Great Collaborators and orchestrators
  2. The great synthesizers
  3. The great explainers
  4. The great leveragers
  5. The great adapters
  6. The green people
  7. The great localizers

Nah, dari petunjuk-petunjuk singkat ini, silahkan mulai aktifkan dan kerahkan imajinasi anda, pasang mata hati dan instink, carilah makna dari fenomena disekitar anda.

Thursday, October 25, 2007

Mapping Industri Kreatif Indonesia 2002-2006 ver Beta 0.3 Telah Diluncurkan!

Tanggal 23 Oktober 2007, acara Pameran Produksi Ekspor atau Trade Expo 2007 dibuka oleh Presiden RI. Acara berlangsung 23-27 Oktober 2007 di Jakarta International Expo (PRJ) di Kemayoran. Acara ini adalah gawe Departemen Perdagangan RI.

Didalam arena pameran, Hall D2 terdapat Anjungan Produk Utama (APU) berisi produk-produk utama dan potensial yang menjadi mata dagangan Indonesia. Disalah satu sudutnya, terdapat sektor Industri Kreatif. Disana ditampilkan berbagai pelaku Industri Kreatif Indonesia seperti kerajinan, furniture, advertising, animasi, games, desain produk, konsultan branding dan juga hasil Indonesia Good Design Selection (IGDS) hasil kerja Pusat Desain Nasional - Departemen Perindustrian.




Salah satu sudut arena pameran, Zona Industri Kreatif. Mesin ATM saya ada dipojok bawah.


Disini pula hasil mapping Industri Kreatif yang diolah oleh Departemen Perdagangan yang dibantu sebuah tim yang mewakili industri kreatif ditampilkan. Mapping ini masih dalam versi Beta, finalisasi akan diluncurkan di awal November. Berbagai diagram statistik ditampikan didalam sebuah panel berukuran 3 meter x 2 meter. Ini adalah resume dari hasil penelitian tim tersebut:
· Industri Kreatif di Indonesia yang masih belum banyak tersentuh oleh campur tangan pemerintah ternyata cukup berperan dalam membangun perekonomian nasional. Sektor ini berkontribusi sebesar Rp 104,4 triliun rupiah di 2006, atau berperan rata-rata 4,75% di periode 2002-2006 dalam PDB nasional. Jumlah ini melebihi sumbangan yang diberikan oleh sektor listrik, gas, dan air bersih.

· Yang lebih menjanjikan dari Industri Kreatif di Indonesia adalah kemampuannya dalam percepatan menghadirkan lapangan usaha baru. Sektor ini mampu menyerap 4,5 juta pekerja dengan tingkat pertumbuhan sebesar 17,6% di tahun 2006. Nilai pertumbuhan ini jauh melebihi tingkat pertumbuhan tenaga kerja nasional yang hanya tumbuh sebesar 0,54%. Jumlah perusahaan baru meningkat sebanyak 25,05%, juga jauh dibandingkan keseluruhan nasional yang hanya 14,41% di tahun yang sama.

· Data-data di atas jelas menunjukkan pentingnya dan prospek yang dimiliki oleh industri kreatif khususnya di tahun-tahun mendatang, yang kiranya akan jauh lebih baik lagi dengan dukungan dari pemerintah, khususnya departemen perdagangan.

· Sektor kreatif akan memberikan harapan baru akan munculnya suatu usaha atau kegiatan ekonomi yang lebih banyak mengandalkan sentuhan kreatif individu yang akan membawa mereka ke level kehidupan yang lebih baik. Produktivitas sektor Industri kreatif lebih tinggi dari keseluruhan produktivitas tenaga kerja nasional, karena ekonomi kreatif membawa segenap talenta, bakat, dan hasrat individu untuk menciptakan “nilai tambah” melalui hadirnya produk/jasa kreatif.

· Dengan campur tangan pemerintah, maka sektor ini dapat berperan jauh dalam perekonomian nasional. Industri kreatif di Indonesia akan mampu berperan menciptakan banyak lapangan kerja dan wirauusahawan-wirausahawan baru, yang akan membantu mengurangi jumlah pengangguran serta tingkat kemiskinan. Kesempatan untuk menjadi wirausahawan baru akan terbuka bagi semua golongan dan individu karena tidak diperlukan modal yang besar dan teknologi tinggi, cukup ide (produk) kreatif, asalkan mereka mau berusaha dan meraihnya.

· Selain dampak ekonomi, industri kreatif juga mampu menghadirkan berbagai hal positif lainnya. Studi Industri kreatif di Inggris dan negara lainnya menyebutkan bahwa sektor ini mampu membantu menumbuhkan individual fulfilment dan well-being, menyatukan bangsa sebagai sebuah komunitas, meningkatkan kualitas pendidikan, serta membuat negara menjadi lebih menarik untuk kepariwisataan. Sehingga sudah saatnya bagi bangsa ini untuk mulai serius dalam mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia.

Pada saat pembukaan, terlihat beberapa tokoh dan mantan pengambil keputusan di pemerintah menaruh perhatian mereka pada Industri Kreatif. Rata-rata berkomentar positif.





Ki-Ka: Ardiansyah S Parlan-Dirjen Perdagangan Dalam Negeri DepDag. Rahardi Ramelan-mantan MenPerinDag Kabinet Reformasi, Andrie Trisaksono-orang biasa. Sedang asyik mendiskusikan kontribusi sektor Industri Kreatif dibandingkan dengan sektor-sektor industri lain. Sangat surprise ketika bapak Rahardi Ramelan menyebutkan bahwa kita semua harus mulai mengaktifkan OTAK KANAN, wow, beliau ternyata masih tekun mengikuti perkembangan teori-teori bahkan ke industri kreatif juga, selamat pak. Tidak ketinggalan para tokoh dari Pusat Desain Nasional seperti Prof Widagdo dan Ir Sihombing tampak hadir di arena.

Slideshow Mapping Industri Kreatif Indonesia 2002-2006 versi Beta 0.3 (penjelasan lebih detail, kunjungi http://industrikreatif-depdag.blogspot.com/ )

Wednesday, October 17, 2007

just testing

Technorati Profile

Sunday, October 7, 2007

Guest Lecture, Creative Entrepreneur, SBM-ITB

Sabtu pagi tanggal 6 Oktober 2007, saya diundang sebagai Guest Lecture di Sekolah Manajemen Bisnis ITB, Bandung. Sesuai permintaan, saya memaparkan topik "Creative Entrepreneurship" dimana saya sharing knowledge mengenai ekonomi kreatif, creative entrepreneur dan case study pengalaman saya membangun bisnis yang sekarang saya geluti yaitu mendesain dan membuat mesin ATM non-tunai untuk Bank, from scratch dan sekarang telah tersebar disekitar 400 lokasi diseluruh Indonesia.

Saya sangat surprise ternyata dipenghujung liburan dan masih dalam kondisi berpuasa, banyak mahasiswa MBA yang datang, hampir tidak ada yang beranjak pergi sebelum acara usai. Pertanyaan-pertanyaan kritis juga dilontarkan oleh mahasiwa, tidak terasa waktu perkuliahan 1,5 jam terlampaui.

Catatan saya : masih banyak mahasiswa yang terpaku dalam paradigma bisnis lama, terlihat dari macam pertanyaan seperti: bagaimana mengikuti tender di pemerintahan, bagaimana memenangkan tender disuatu project besar. Saya jawab: Apabila anda berkecimpung dalam bisnis yang telah ada sekarang, maka anda akan selalu dibandingkan dengan rival anda, istilahnya Bisnis Kubangan. Bisnis atau industri seperti ini menarik banyak sekali orang-orang karena hampir semua orang mampu mengerjakannya dan anda bertarung keras, berdarah-darah dalam tender. Namun bila anda memiliki gagasan bisnis baru dan itu diterima oleh customer, anda tidak akan bertarung karena tidak ada yang bisa dibandingkan dengan anda. Customer akan menunjuk langsung pada anda, tanpa tender. Ini adalah tujuan dari creative entrepreneur yang sebenarnya. Beberapa cuplikan pertanyaan penting lain sebagai berikut:

Bagaimana mengidentifikasi peluang?
Jawab:

Dimulai dengan pernyataan yang menggugah emosi, bahwa bisnis itu tidak mudah, jikalau mudah, semua orang kaya raya dan tidak ada orang yang miskin. Jadi diperlukan fokus yang tajam. Didalam era Ekonomi Kreatif (the Age of Creation and Intensification), kita tidak perlu terpaku pada market boundaries yang ada. Pesan dari Era ini adalah orisinalitas gagasan dan bagaimana mengintensifkannya. Dengan orisinalitas ini anda dapat melampaui boundaries tersebut, keluar dari tempurung. Saya menjelaskan dengan konsep The Blue Ocean Strategy. Apabila anda memiliki gagasan yang brilian dan tidak mengikuti definisi market yang telah ada, anda akan mampu membalik keadaan, menjadikan market yang ada tidak relevan lagi. Tips mudahnya adalah: Mulailah dengan apa yang ada sukai. Misalnya, apabila anda menyukai anjing Rothweiler, anda tidak pernah merasa bosan dan lelah mengumpulkan informasi tentang anjing tersebut, bahkan anda sampai tahu gen anjing tersebut dan struktur tulangnya. Galilah informasi sampai pada suatu titik anda telah merasa telah memiliki informasi yang selengkap-lengkapnya. Selanjutnya anda tinggal memposisikan angle dimana anda akan memasuki pasar. Semangat ini adalah BE PASSIONATE on Everything You Do. Saya lengkapi jawaban saya ini dengan klarifikasi pernyataan-pernyataan dari Tom Peters, Daniel Pink dan John Howkins.

Bagaimana memulainya?
Jawab:

Seperti juga kisah-kisah sukses entrepreneur lain, mereka selalu bekerja ekstra keras, tak kenal lelah walaupun badai menerpa. BE VERY AMBITIOUS. Saya katakan, anda tidak akan tergerak menjadi entrepreneur apabila anda tidak dalam keadaan buru-buru, butuh dan terdesak, URGENCY. Saya tambahkan lagi faktor yang penting yaitu DENDAM KESUMAT. Apabila anda merasa bosan dan teraniaya secara intelektual dan ekonomi didalam lingkungan kerja anda sekarang, itu adalah saat yang tepat untuk menjadi entrepreneur. Manifestasi Dendam membara bila dijadikan energi positif akan menjadi FIRE yang selalu membakar semangat anda. Berikutnya adalah BE KIND to People, karena dengan bersikap baik, anda akan mudah diterima disemua jaringan-jaringan penting yang anda butuhkan.Teman-teman anda dan lingkaran terdalam anda adalah orang pertama yang bisa membantu apabila anda memulai dengan berbagai keterbatasan, seperti saya dulu menggunakan paviliun rumah ibu saya dan garasinya sebagai head offfice dan memakai kantor gedongan teman baik saya sebagai tempat meeting, serta meminjam bendera PT teman saya untuk memulai bisnis.

Bagaimana dengan modal?
Jawab:
Lagi-lagi ini menunjukkan the power of ideas. Apabila anda memiliki gagasan yang sangat brilian dan project yang prestisius, banyak third party yang berminat mendukung anda. Anda harus pandai berpolitik dalam hal ini sebagaimana anda bermain catur. Anda bisa melakukan barter meminta disediakan ruangan untuk bekerja dengan imbalan anda akan memberi sebagian order bahan baku kepada third party tersebut, dan metode pembayaran back-to-back (anda akan melunasi mereka saat anda telah dilunasi). Juga, dengan solusi yang anda miliki, anda memiliki bargaining position yang kuat. Anda dapat meminta downpayment sebesar 50% kepada customer. Customer akan menuruti anda karena ia tidak memiliki arternatif lain selain anda. Asalkan anda dapat mengutarakan hal politis ini secara "elegan", dan jujur, permintaan anda akan dikabulkan. Selebihnya, membobol tabungan, menjual barang-barang dan meminjam uang dari teman atau keluarga.
Apakah Anda Outsource?
Jawab:
Ya, betul saya outsource dan itu justru semangat dari ekonomi kreatif secara holistis. Mengapa? didalam era dimana segala sesuatu mengandalkan gagasan, maka anda harus sangat kuat dengan gagasan anda, produksi bisa dimana saja. Saya tidak perlu membeli tanah dan membangun full blown factory, karena core bisnis saya adalah solution and integration. Sama halnya seperti iPod diproduksi di Philipina, iPhone diproduksi oleh Foxconn (gosipnya), PDA O2 diproduksi oleh HTC. Dan X-Box, Sony, HP, Handsprings dan masih banyak yang lain diproduksi oleh perusahaan raksasa outsoucing: Flextronics. Semakin anda bisa terbebas dari paradigma era industrialisasi massa, anda akan semakin fleksibel dan gesit.

Bagaimana dengan competitive advantage anda dibandingkan dengan rival raksasa sperti IBM dan NCR yang anda hadapi?
Jawab:
Yang perlu anda ketahui, You can't Teach Elephant to Dance. Kita bisa menganalisa dari Niche Market. Saya menganalisa, didalam industri tertentu kadang nilai nominal tertentu kurang memotivasi raksasa-raksasa untuk berlari jika ternyata waktu yang tersedia dan specs yang diminta membuat mereka mengeluarkan effort yang besar. Disisi lain, sekian milyar rupiah adalah nominal yang sangat besar bagi organisasi kecil seperti saya. Disitulah peluang bagi entrepreneur muda. Yang saya tawarkan adalah lower price, higher specs, shorter leadtime, customizable, good customer care (quick respons & attentions).
Bagaimana agar Kreatif?
Jawab:
Ini adalah pertanyaan yang sulit bagi saya karena mencoba menjelaskan hal yang abstrak secara teratur. Saya mengatakan bahwa semua orang secara kondrati adalah kreatif. Dalam hal-hal tertentu ada yang terlahir lebih menyenangi mengerjakan hal-hal yang kreatif dibandingkan orang lain sehingga ia lebih terasah, ini disebut Creative People. Seperti saya, mungkin sejak kecil sudah senang bidang-bidang kreatifitas seperti bermain musik, senang menggambar, fotografi dan lain-lain. Karena kreatifitas adalah bagian hidup semua orang, itu bukanlah hal yang perlu dirisaukan. Yang menjadi tantangan adalah pada saat anda ingin memanfaatkan kreatifitas dalam entrepreneurship, mengubah diri anda menjadi seorang Creative Entrepreneur. Saya mencoba menjawab dengan analogi pada perjalanan hidup diri saya sendiri. Momentum terbesar dalam hidup saya dalah pada saat saya diterima sebagai mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Sensasi bathin yang saya alami adalah tercebur didalam lingkungan dimana orang-orang lain disekitar saya adalah orang-orang dari bidang sains dan enjiniring, yang memotivasi saya untuk mengamati, dan mendengarkan wacana-wacana yang mereka bicarakan, dan mencoba mencari kesinambungan diantaranya. Saya menyimpulkan bahwa dibutuhkan RUANG INTERAKSI dan BRAINSTORMING untuk bereksperimen, mengkawin-silangkan sesuatu ide secara multi displiner agar gagasan-gagasan kewirausahaan kreatif dapat berkembang. Yang perlu diingat, yang ditekankan adalah Its the PROCESS not the TOOLS. Sikap skeptis dari bidang non-kreatif adalah perangkap yang harus dihindari, karena itu berarti contra-productive, contra-passionate. Semua orang harus memiliki open mind, TOLERANT terhadap gagasan-gagasan liar dan gila berfikir bagaikan Otak Seorang Pemula (The Beginner's Mind). "In the Beginner's Mind, there are many possibilities, but in the Expert's, there are few." Saya lengkapi argumen saya dengan konsep The R-Directed Thinking-Daniel Pink dan konsep 3T-nya Richard Florida (Talented people, Tolerance, Technology).

Kuliah seminar ini ditutup dengan kesimpulan dari Moderator dan pemberian kenang-kenangan. Perbincangan hangat berlanjut seusai acara dan saling berukar kartu nama. It was a fun experience, Viva SBM-ITB!

Berikut adalah 5 slides dari 43 slides yang saya tayangkan:
















Update 25/10/07: ternyata saya baru temukan bahwa dendam kesumat memang bisa menjadi motivasi entrepreneurship. Ini adalah artikel di businessweek, berjudul "Sweet Revenge", lihat juga slideshownya. Enjoy.

Wednesday, September 19, 2007

The Seven Organization Types

Diambil dari website OrganizationDNA BoozAllenHamilton.

Dari 7 sifat organisasi, ada empat yang tidak sehat dan ada tiga yang sehat:

Passive-Aggressive
"Semua setuju, tetapi tidak ada perubahan"
Organisasi ini bagaikan orang yang tersenyum. Organisasi ini tidak ada masalah dalam membangun konsensus yang bertujuan untuk mengubah keadaan, tapi sayang, mengimplementasikannya adalah mustahil. Fikiran mereka bercabang, dan fungsi-fungsi dilapangan secara "underground" menolak inisiatif dari pusat. Senior manajemen lembek dalam mengatasi masalah-masalah.

Fits-and-Starts“
"1000 bunga mekar mewangi.”
Organisasi ini mensia-siakan intelektual dan inisiatif. Orang-orang pintar tetapi punya visi entrepreneur yang berlainan, sehingga tidak menuju kearah yang sama pada saat yang sama. Lingkungannya memungkinkan seseorang menemukan ide lalu kabur begitu saja. Jadi, dengan ketiadaan arahan yang jelas dari atasan dan ketidak solidan orang-orang dibawah, inisiatif sering bertabrakan atau meledak. Hasilnya adalah organisasi yang cenderung keberpihakan pada masing-masing kubu dan tak terkendali.

Outgrown
"masa silam menghadapi masa kini yang penuh tantangan"
Organisasi ini terlepas dari ikatan, melebar menjauh dari model organisasi awal. Karena kendali dipegang penuh oleh atasan, Outgrown organization cenderung lambat mengembangkan pasar sering tidak dapat melepaskan diri. Bila anda ada diorganisasi ini, anda mungkin melihat berbagai peluang pasar atau peluang perubahan berseliweran tetapi sangat berat mengajukan gagasan anda agar bisa diterima dan dilihat orang. Sangat Top-Down, dan pengambilan keputusan berpihak pada kubu-kubu tertentu.

Overmanaged
"kami dari pusat datang untuk membantu"
Terkubur dalam banyaknya lapisan manajemen, organisasi macam ini cocok untuk menjadi studi kasus "analisis kelumpuhan" (analysis paralysis). Bagaikan menebang terlalu banyak pohon di hutan yang ada, manajer sibuk menghabiskan waktu memeriksa bermacam-macam subordinat sehingga tidak sempat melihat cakrawala peluang-peluang maupun ancaman-ancaman yang bakal terjadi. Sarat dengan birokrasi dan politis, organisasi ini membuat frustrasi orang-orang yang berinisiati dan juga orang-orang yang result-oriented.

Just-in-Time
“untung bisa selamat"
Walaupun tidak selalu proaktif dalam menghadapi perubahan, organisasi jenis ini mampu bereaksi pada saat-dibutuhkan tanpa kehilangan arah visi besarnya. Organisasi Just-in-Time punya sifat "lu-mau-gue-ada" yang merasuk suasana kreatifitas kerjanya, sering juga menghasilkan terobosan, tapi bisa juga mematikan orang-orang terbaiknya. ia tidak konsisten, tidak disiplin dalam struktur dan proses, kadang organisasi ini memilih untuk mengerjakan proyek "sekali-pukul" ketimbang memperhatikan bagaimana memanfaatkan sumber-sumber daya yang ia bisa dijadikan andalan, sehingga organisasi ini sibuk berkutat dengan cara-cara supaya tetap selamat dan sehat saja.

Military Precision
“mari terbang dalam formasi"
Semua orang tahu tugas masing-masing dan menerapkannya secara taat, sehingga efek eksekusi keseluruhan terlihat cepat dan konsisten. Tetapi organisasi berkarakter Military Precision sangat hirarkis dan operasinya dikontrol ketat, ia mampu bekerja efisien dalam mengeksekusi transaksi-transaksi bervolume besar asalkan kasusnya sejenis. Ia bisa mengeksekusi strategi-strategi brilian secara repetitif karena telah dilatih dengan manual yang berisi skenario-skenario kemungkinan. Namun, ia tidak bisa mengantisipasi situasi lain yang belum tertera di buku manualnya.

Resilient
“sebagus bagusnya prestasi"
Ini adalah organisasi yang menginspirasi. Semua terlihat mudah dijalankan: profit bagus, bakat ada, dan rasa saling menghormati. Seperti seorang murid SMA yang selalu dapat A, organisasi yang resilient (mandiri, ulet) seperti ditakdirkan untuk menjadi besar. Ia mampu melesat dikeadaan apapun. Organisasi yang mandiri bersifat fleksibel, melihat jauh kedepan, dan fun, dan menarik minat banyak team-player. Walapun kadang menghadapi batu sandungan (bisa terjadi pada siapapun), ia mampu bangkit kembali dengan cepat dan belajar dari pengalaman. Organisasi yang Resilient adalah organisasi yang paling sehat. Ia tidak silau dengan prestasinya, tetapi ia selalu memperhatikan cakrawala kompetisi dan inovasi selanjutnya.

Monday, August 27, 2007

10 Wajah-wajah Inovasi IDEO

Belajar Kembali ke Fitrah Manusia (Human Factor)
Semakin lama perusahaan konsultan desain dari Amerika, IDEO semakin membuat saya kesengsem dan berhayal, kapan saya bisa menerapkan hal-hal ideal seperti yang mereka lakukan. Saya mentracking penerapan ilmu, teknik dan trik inovasi yang mereka lakukan sejak 6 tahun yang lalu, dan selalu mengagumkan. Pada saat saya beli buku "The Art of Innovation", 5 tahun yang lalu, perlu upaya yang lumayan keras untuk memahaminya karena banyak sekali kejutan-kejutan wawasan baru yang fresh. Kini, buku mereka selanjutnya "The Ten Faces of Innovation" lagi-lagi membuat saya kagum. Dari buku ini, kita belajar bahwa inovasi tidak melulu harus mahal dan terkini. Kadang kita cepat silau dengan sesuatu yang canggih dan glamour dan melupakan sisi-sisi manusiawi dari objek yang kita amati dalam proses pemecahan masalah desain. Setelah membaca buku ini semakin miris saya mengenang saat 10 tahun yang lalu saat saya begitu takjub dengan Rapid Prototyping, 3D Modeling, Animasi dan lain-lain didalam proses desain namun ternyata itu adalah (walaupun tetap penting) bukan segala-galanya. Lalu semakin tambah miris lagi saat di sebuah arena pameran bulan lalu saya mengetahui harga mesin Rapid Prototyping masih AS $ 80,000. What an expensive toys to play with. Bagaimana kita bisa menggunakan teknologi ini bila biayanya tidak kunjung turun?

Saya lega dan senang setiap saya menemukan keselarasan pola fikir kreatif didalam disiplin ilmu desain selaras dengan teori-teori inovasi terkini dari literatur-literatur yang saya baca. 3 buku yang saya gandrungi saat ini adalah The Creative Economy , The Ten Faces of Innovation dan The Blue Ocean Strategy. Bila anda baca semua anda akan sadar bahwa kekuatan ekonomi baru berasal dari faktor/value manusia: talenta, imajinasi, kreatifitas. Kembali ke Manusia! itulah pesan dari ekonomi kreatif saat ini.

Buku The Ten Faces of Innovation akan menuntun anda mengaktifkan dan memaksa otak kreatif anda bekerja lebih keras dan membuat anda memahami jati diri object yang sedang anda amati dalam mendesain. Buku ini juga mengajarkan kita yang mengaku kreatif untuk tidak sombong. Orang kreatif tidak hanya orang yang bisa menggambar. Ia bisa saja orang yang kreatif dalam hal belajar memahami secara mengamati dan mencoba-coba segala hal (The Learning Personas), bisa juga orang yang kreatif dalam hal mengatur segala hal dan berkolaborasi (The Organising Personas) dan juga orang yang kreatif dalam hal membangun suasana yang positif dan membangun persepsi (The Building Personas). Berikut ini adalah penjelasan dari buku The Ten Faces of Innovation, saya copy-paste dari websitenya. Ini adalah versi terjemahan bebas ala saya. Silahkan disimak.

1. SIFAT PEMBELAJARAN (THE LEARNING PERSONAS)
Individu maupun organisasi selalu harus memperluas wawasan baru dalam rangka melebarkan ilmu pengentahuanya dan agar dapat berkembang. Jadi Persona pertama dari tiga Persona yang ada berkaitan dengan Sifat Pembelajaran (learning roles). Persona ini memiliki pendapat yaitu, sesukses apapun suatu perusahaan, tidak boleh ada kata puas. Dunia ini senantiasa berubah dan perubahan itu semakin cepat dari waktu ke waktu, ide cemerlang di hari ini bisa jadi tidak relevan lagi dimasa datang. Sifat Pembelajaran ini akan membantu tim anda untuk tidak terlalu fokus terhadap faktor-faktor internal, dan mengingatkan perusahaan untuk tidak cepat puas terhadap apa yang sudah diketahui. Orang-orang yang menanamkan sifat pembelajaran ini senantiasa dengan mudah melempar pertanyaan balik ke dunianya sendiri, dengan demikian mereka tetap terbuka terhadap masukan-masukan baru yang ditemui tiap hari.

a. Sang Antropolog (The Anthropologist). Sang Antropolog jarang berdiam diri. Ia adalah orang yang mengembara di lapangan mengobservasi manusia yang sedang berinteraksi dengan produk, servis, dan pengalaman-pengalaman guna memperoleh inovasi baru. Sang Antropolog sangat pandai menangkap permasalah dari sisi yang baru, memanusiakan metodologi saintifik agar dapat diaplikasikan kedalam kehidupan sehari-hari. Antropolog memiliki karakteristik yang khas seperti misalnya falsafah-falsafah keterbukaan, empati, intuisi; suatu kemampuan melihat sesuatu yang tidak kasat mata, minat yang tinggi terhadap konsep-konsep inovatif yang harus dipecahkan; dan menemukan inspirasi dari tempat-tempat yang tidak biasa.

b. Sang Eksperimenter (The Experimenter). Lebih senang dengan proses-proses yang dilalui ketimbang senang pada peralatan ekperimennya, ia senantiasa menguji dan menguji sekenario kemungkinan-kemungkinan sampai akhirnya suatu ide bisa berwujud dengan jelas (tangible). Ia seorang pengambil resiko yang cermat, ia orang yang selalu memodelkan apapun, baik itu berupa produk dan servis bahkan proposal, sampai ia dapat memperoleh jalan keluar yang paling efisien. Si tukang eksperimen ini akan sering berkolaborasi dengan orang lain dengan seru, tetapi tetap menjaga proses eksperimentasi ini didalam kerangka waktu dan anggaran yang wajar.

c. Si Pengawin Silang (The Cross-Pollinator) .Ia mencari asosiasi dan keterhubungan antara gagasan-gagasan yang tak berkaitan menjadi sesuatu yang baru. Ia orang yang memiliki minat akan banyak hal, keingin tahuan yang tinggi, dan bakat dalam belajar serta mengajar, Si Pengawin Silang ini membawa ide-ide cemerlang dari bidang lain dan menjadikannya sesuatu yang baru. Orang-orang seperti ini biasanya openminded, suka mencatat, cenderung berfikir secara metafora, dan mampu memperoleh inspirasi dari keterbatasan-keterbatasan yang ia hadapi.

2. SIFAT PENGATUR (THE ORGANISING PERSONAS)
Sifat yang berikutnya adalah sifat Pengatur. Ia adalah orang yang tangkas dalam bidang yang kadang membuat kepala kebanyakan orang menjadi jutek, yaitu bagaimana tetap menjaga suatu gagasan terus melaju didalam suatu organisasi yang kompleks. Dulu di IDEO, orang percaya bahwa ide yang bagus pasti mampu berbicara dengan sendirinya. Sekarang, pendapat itu tidak cukup lagi. Harus ada orang-orang dengan sifat Sang Pentuntas (The Hurdler), Sang Kolaboratoris (The Collaborator), dan Sang Sutradara (The Director), yang berprinsip bahwa: sebagus apapun suatu ide, tetap harus mau memperhatikan waktu yang tersedia, mau menyediakan perhatian yang cukup dan mau memperhatikan sumber daya yang ada. Orang-orang yang bersifat pengatur ini tidak menganggap proses penganggaran (budgeting), alokasi sumber daya (resource allocation) sebagai "politik" dan "birokrasi" yang menyebalkan. Mereka melihatnya sebagai suatu permainan catur yang rumit tetapi mereka harus menang.

a. Sang Peloncat Rintangan (The Hurdler) adalah seorang problem-solver yang tak kenal lelah yang mau mencoba menyelesaikan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Bila diberi tantangan sang Pentuntas secara bijak melintasi rintangan yang ada dengan tetap tenang dan dengan tekad positif. Optimisme dan motivasi tinggi ini mampu membalik kondisi status quo dan kemunduran menjadi kesuksesan meskipun menghadapi ramalan kiamat yang dikirim oleh Pakar yang kurang berwawasan.

b. Sang Kolaborator (The Collaborator) adalah orang langka yang menjunjung tinggi pentingnya kerja kelompok dibandingkan kerja individualis. Dengan tujuan utama mentuntaskan pekerjaan, Sang Kolaborator membujuk orang agar keluar dari pos-pos kerjanya, dan membentuk tim multidisipliner. Dengan demikian, orang ini menghilangkan pola fikir tradisional disuatu organisasi dan menciptakan suatu kondisi bagi para anggota tim untuk mampu menciptakan aturan-aturan baru. Lebih memposisikan dirinya sebagai pembimbing (coach) dari pada nge Boss, sang Kolaborator perlahan-lahan membimbing tim dengan penuh kepercayaan dan keterampilan sampai perjalanan timnya selesai.

c. Sang Sutradara (The Director) sangat jago memahami "Gambar Besar" dan mampu memahami sifat suatu organisasi. Juga, sang Sutradara berbakat menyiapkan panggung, membidik peluang, memilih pemain-pemain terbaik, dan menuntaskan tugas. Melalui pemberdayaan dan penginspirasian, orang dengan sifat ini memotivasi orang-orang disekitarnya agar masuk ke arena panggung dan siap menghadapi hal-hal yang tidak terduga.

3. SIFAT PEMBANGUN (THE BUILDING PERSONAS)
Empat sifat terakhir adalah sifat pembangun yang menerapkan masukan-masukan dari SIFAT PEMBELAJAR dan memberdayakan masukan dari SIFAT PENGATUR dan akhirnya menciptakan inovasinya. Apabila orang-orang memakai sifat pembangun ini, mereka menonjol didalam organisasinya. Orang-orang ini sangat terlihat, anda akan sering melihat mereka tampil beraksi.

a. Sang Perangkai Pengalaman (The Experience Architect). Sang Perangkai Pengalaman senang merangkai suasana yang ia gali dari pengalaman individu dalam berinteraksi dengan produk, layanan, interaksi digital, ruang, event maupun organisasinya. Ia mampu mengubah sesuatu yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa.

b. Sang Perancang Panggung (The Set Designer). Mencari bebagai cara untuk menghidupkan dan menggerakan energi positif melalui penciptaan kebiasaan/budaya yang bersifat kreatif. Cara kerjanya dalam menciptakan suasana inovatif adalah dengan menciptakan ruangan fisik yang memungkinkan setiap individu untuk saling berkolaborasi. Ia percaya bahwa ruangan fisik adalah salah satu alat yang bisa meningkatkan produktifitas dan inovasi disebuah perusahaan/organisasi.

c. Sang Penutur Cerita. (The Storyteller).Sang Penutur Cerita mampu menangkap imajinasi semua orang dan mengubahnya kedalam narasi-narasi yang mampu menggerakan inisiatif, kerja keras dan inovasi. Ia tidak hanya bertutur dengan kata-kata saja tetapi juga menggunakan berbagai medium yang sesuai seperti video, narasi, animasi bahkan komik. Ia menghubungkan cerita -cerita secara unik, ia mampu membangkitkan emosi juga aksi, mentranformasikan nilai-nilai dan tujuan-tujuan, menggerakan suatu kolaborasi, menciptakan Suri Tauladan (heroes) dan menuntun orang dan perusahaan ke masa depan.

d. Sang Pengayom (The Caregiver). Sang Pengayom adalah sifat dasar dari inovasi berbasis kearifan manusia (human-powered innovation). Bekerja dengan hati, empati, ia berusaha memahami semua customer dan menciptakan hubungan yang erat. Ia bagaikan zuster di rumah sakit, bagaikan seorang sales di toko retail, atau juga bagaikan seorang teller di sebuah perusahaan finansial kelas dunia yang membimbing customer kedalam suatu proses secara nyaman, dan manusiawi (human-centered experience).